A.
Hakikat
Pembelajaran
1. Pengertian
Hakikat Pembelajaran
a. Pengertian
Pembelajaran
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik
agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat
seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran
mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi
yang berbeda.
Menurut
Hamalik (1994) Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi
unsur0unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang
saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran
Menurut
Dimyati dan Mudjiono dalam Ahmar (2012:10) Pembelajaran adalah kegiatan guru
secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara
aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Menurut
Corey dalam Ahmar (2012:11) Konsep pembelajaran adalah proses dimana lingkungan
seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam
tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons
terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari
pendidikan.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran adalah usaha yang dilakukan secara secara
sadar untuk mencapai tujuan belajar yang aktif dan kreatif.
b. Komponen
Pembelajaran
Interaksi
merupakan ciri utama dari kegiatan pembelajaran, baik antara yang belajar
dengan lingkungan belajarnya, baik itu guru, teman-temannya, tutor, media
pembelajaran, atau sumber-sumber belajar yang lain. Ciri lain dari pembelajaran
adalah yang berhubungan dengan komponen-komponen pembelajaran. Menurut Sumiati
dan Asra dalam Ahmar (2012: 12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran
dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan
siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran,
media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta
situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya.
c. Tujuan
Pembelajaran
Menurut
Robert F. Meager dalam Ahmar (2012:12) memberi batasan yang jelas tentang
tujuan pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui pernyataan yang
menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari siswa.
Menurut
Daryanto dalam Ahmar (2012:12) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang
menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah tujuan yang akan dicapai
dalam proses pembelajaran yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik.
d. Materi
Pembelajaran
Menurut
Syaiful Bahri Djamarah dalam Ahmar (2012:15) Materi pembelajaran pada dasarnya
merupakan isi dari kurikulum yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi
dengan topic dan rinciannya. Isi dari proses pembelajaran tercermin dalam
proses materi pembelajaran yang dipelajari oleh siswa.
Materi
pembelajaran disusun secara sistematis dengan mengikuti prinsip psikologi. Agar
materi pembelajaran itu dapat mencerminkan target yang jelas dari perilaku
siswa setelah mengalami proses belajar mengajar. Materi pembelajaran harus
mempunyai lingkup dan urutan yang jelas. Lingkup dan urutan itu dibuat bertolak
dari tujuan yang dirumuskan.
Menurut
Harjanto dalam Ahmar (2012:15) menjelaskan beberapa kriteria pemilihan materi
pembelajaran yang akan dikembangkan dalam sistem pembelajaran dan yang
mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu :
1) Kriteria
tujuan pembelajaran
2) Materi
pembelajaran supaya terjabar
3)
Relevan dengan kebutuhan siswa
4)
Kesesuaian dengan kondisi masyarakat
5)
Materi pembelajaran mengandung segi-segi
etik
6)
Materi pembelajaran tersusun dalam ruang
lingkup dan urutan yang sistematik dan logis
7)
Materi pembelajaran bersumber dari buku
sumber yang baku, pribadi guru yang ahli dan masyarakat.
e. Metode
Pembelajaran
Menurut
Ahmar (2012) metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan,
menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai
tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa
untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Belajar produk pada umumnya
hanya menekankan pada segi kognitif. Sedangkan belajar proses dapat
memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun
psikomotor.
Oleh
karena itu, metode pembelajaran
pembelajaran diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu lebih banyak
menekankan pembelajaran melalui proses. Dalam hal ini guru dituntut agar mampu
memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian
bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
f. Media
Pembelajaran
Menurut
Ahmar (2012) Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan siswa dan guru
dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun di
luar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak terlalu
identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namunproses
belajar tanpa kehadiran guru dan lebih mengandalkan media termasuk dalam
kegiatan pembelajaran.
Menurut
Rudi Susilana dan Cepi Riyana dalam Ahmar (2012:19-21) mengklasifikasikan
penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
1)
Penggunaan media kelas
2)
Penggunaan media di luar kelas
g. Evaluasi
pembelajaran
Menurut
Lee J. Cronbach dalam Ahmar (2012:21) merumuskan bahwa evaluasi sebagai
kegiatan pemeriksaan yang sistematis dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dan
akibatnya pada saat program dilaksanakan pemeriksaan diarahkan untuk membantu
memperbaiki program itu dan program lain yang memiliki tujuan yang sama.
Menurut
Harjanto dalam Ahmar (2012:21) dalam hubungannya dengan pembelajaran evaluasi
pembelajaran adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan
peserta didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Evaluasi Pembelajaran adalah mengukur sampai dimana
peristiwa yang sudah terjadi guna
mengrtahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi pada
peristiwa tersebut.
Menurut
Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012:22) hasil tes yang diberikan oleh guru
mempunyai banyak kegunaan bagi siswa, diantaranya:
1) Mengetahui
apakah siswa sudah menguasai materi pembelajaran yang disajikan oleh guru
2) Mengetahui
bagian mana yang belum dikuasai oleh siswa, sehingga dia berusaha untuk
mempelajarinya lagi sebagai upaya perbaikan
3) Penguatan
bagi siswa yang sudah memperoleh skor tinggi dan menjadi dorongan atau motivasi
untuk belajar lebih baik.
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan penilaian
terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Evaluasi
pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dalam proses pembelajaran.
Karena dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran dapat
diketahui hasilnya. Oleh karena itu evaluasi pembelajaran harus disusun dengan
tepat, agar dapat menilai kemampuan siswa dengan tepat.
h. Peserta
didik/siswa
Menurut
Ahmar (2012:22) siswa merupakan salah satu komponen inti dari pembelajaran,
karena inti dari proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dalam
mencapai suatu tujuan.
Menurut
Herlin Febriana Dwi Prasti dalam Ahmar (2012:23) mengemukakan disiplin
merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nila-nilai ketaatan, kepatuhan,
keteraturan dan ketertiban berdasarkan acuan nilai moral.
Menurut
Slameto dalam Ahmar (2012:23) menyatakan belajar adalah proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Disiplin
belajar adalah suatu kondisi yang terbentuk melalui proses usaha seseorang yang
dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,
keteraturan dan ketertiban.
Dari
berbagai pengertian diatas dapat diketahui bahwa siswa merupakan komponen inti
dari pembelajaran, maka siswa harus memiliki disiplin belajar yang tinggi.
Siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi akan terbiasa untuk selalu
patuh dan mempertinggi daya kendali diri, sehingga kemampuan yang sudah
diperoleh siswa dapat diulang-ulang dengan hasil yang relative sama.
i.
Pendidik/guru
Menurut
Syaiful Bahri Djamarah dalam Ahmar (2012:24) secara keseluruhan guru adalah
figure yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam
masyarakat maupun di sekolah..
Secara umum tugas guru adalah
sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan
trjadinya proses belajar pada diri siswa. Menurut suciati, dkk dalam Ahmar
(2012:24-25) dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, ada dua tugas yang
harus dikerjakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaram yang efektif. Kedua
tugas tersebut sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
Sebagai pengelola pembelajaran, guru bertugas untuk menciptakankegiatan
pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara
optimal. Sedangkan sebagai pengelola kelas, guru bertugas untuk menciptakan
situasi kelas yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang efektif. Kedua
tugas itu saling berkaitan satu dengan yang lain.
j.
Lingkungan tempat belajar
Menurut
Suciati, dkk dalam Ahmar (2012:25) menjelaskan bahwa lingkungan adalah situasi
yang ada disekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi
proses belajar siswa. Jika lingkungan ditata dengan baik, lingkungan dapat
menjadi sarana yang bernilai positif dalam membangun dan mempertahankan sifat
positif.
Menurut
Dalyono dalam Ahmar (2012:26) juga mengeaskan bahwa lingkungan itu sebenarnya
mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar individu, baik yang
bersifat fisiologis, psikologis maupun sosio-kultural.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Lingkungan adalah daerah yang berada disekitar kita
tempat kita untuk bersosialisasi yang bernilai positif.
k. Pengolahan
Proses Pembelajaran
Menurut
Ahmar (2012:26) mengajar merupakan aktivitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi
proses belajar mengajar. Tugas dan tanggung jawab seorang guru adalah mengelola
proses belajar yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas belajar,
sedangkan Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012:26-27) peran guru dalam
pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya
menjalankan tugas utama, yaitu :
1)
Merencanakan pembelajaran, yang terinci
dalam empat sub kemampuan yaitu perumusan tujuan pembelajaran, penetapan materi
pembelajaran, penetapan kegiatan belajar mengajar, penetapan metode dan media
pembelajaran, penetapan alat evaluasi
2)
Pelaksanaan pengajaran yang termasuk
didalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan pembelajaran
3)
Mengevaluasi pembelajaran dimana
evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan
pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan.
4)
Memberikan umpan balik mempunyai fungsi
untuk membantu siswa memlihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan
tugas belajar.
B.
Model
Desain Pembelajaran
Desain
pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang
diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk
merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diuji cobakan dan
akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas
rancangan (desain) yang disusun.
Menurut
Gagne (1992) menjelaskan desain pembelajaran disusun untuk membantu proses
belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tajapan segera dan tahapan
jangka panjang.
Menurut
Dick and Carey dalam Aji (2016:120) memandang desain pembelajaran sebagai
sebuah sistem dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sistematis. Menurut Aji (2016:121) berbagai model dapat
dikembangkan dalam mengorganisasi pengajaran. Salah satu diantaranya adalah
model pembelajaran Dick and Carrey. Adapun langkah-langkah pembelajarannya
yaitu:
1.
Mengidentifikasi tujuan umum
pembelajaran
2.
Melaksanakan analisis pengajaran
3.
Mengidentifikasi tingkah laku masukan
dan karakteristik siswa
4.
Merumuskan tujuan performansi
5.
Mengembangkan butir-butir tes acuan
patokan
6.
Mengembangkan strategi pengajaran
7.
Mengembangkan dan memilih material
pengajaran
8.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi
formatif
9.
Merevisi bahan pembelajaran
10. Mendesain
dan melakukan evaluasi sumatif.
Menurut Uno dalam Aji
(2016:121) secara umum pengunaan model pengajaran Dick and Carrey adalah
sebagai berikut.
1.
Model Dick and Carrey terdiri atas 10
langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi
perancang pemula sangat cocok sebagai
dasar untuk mempelajari model desain yang lain.
2.
Kesepuluh langkah pada model Dick and
Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas dan tidak terputus antara langkah
yang satu dengan langkah yang lainnya. Dengan kata lain, sistem yang terdapat
dalam Dick and Carrey sanagt ringkas, tetapi isinya padat dan jelas dari suatu
urutan ke urutan berikutnya.
3.
Langkah awal pada model Dick and Carrey
adalah mengidentifikasi tujuan pengajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan
kurikulum baik di perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar,
khususnya dalam mata pelajaran tertentu yang memiliki tujuan pembelajaran dalam
kurikulumnya untuk dapat melahirkan suatu rancangan pembelajaran.
Penggunaan
model Dick and Carrey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar:
a)
Pada awal proses pembelajaran, anak
didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan
dengan materi pada akhir pembelajaran
b)
Adanya pertautan antara tiap komponen,
khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki
c)
Menerapkan langkah-langkah yang perlu
dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Kriteria
Desain Instruksional
1. Beberapa
kriteria desain instruksional yang baik;
a. Berorientasi
pada siswa
Sistem pembelajaran
siswa merupakan komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam
mengembangkan perencanaan dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran
dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang
dapat dilihat dan dipahami dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain,
kemampuan dasar dan gaya belajar.
b. Bepihak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan
sistem dapat mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari
ketidakpastian melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang
mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c. Teruji
secara empiris
Desain instruksional
harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.
2. Model-model
desain instruksional
Perencanaan
pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan
lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum
sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001)
bahwa desain intruksinonal adalah a
systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain
pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah ini disajikan beberapa di antaranya.
a. Model
Kemp
Model
desain sistem instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang
dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp
pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul.
Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja
urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu
model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen
dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah :
a)
Hasil yang ingin dicapai
b)
Analisis tes mata pelajaran
c)
Tujuan khusus belajar
d)
Aktivitas belajar
e)
Sumber belajar
f)
Layanan pendukung
g)
Evaluasi belajar
h)
Tes awal
i)
Karakteristik belajar
Kesembilan
komponen itu merupakan suatu siklus yang
terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi si sumatife maupun
formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin
dicapai, prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
b.
Model Banathy
Model
desain sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini
memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program
pembelajaran yaitu:
1) Menganalisis
dan merumuskan tujuan
2) Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3) Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar
4) Merancang
sistem
5) Mengimplementasi
dan melakukan kontrol kualitas sistem
6)
Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil
evaluasi
c. Model
Dick and Cery
Seperti
desain model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus
dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini,
sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan
kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai
selanjutnya dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan
khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi
pembelajaran. Langkah akhir dari desaim adalah melakukan evaluasi, yakni
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Berdasarkan hasil evaluasi inilah
selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran
d. Model
PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model
PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang
dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI
berfungsi untuk mengefektifkan
perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk
dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap
yakni:
1) Merumuskan
tujuan
2) Mengembangkan
evaluasi
3) Mengembnagkan
kegiatan belajar mengajar
4) Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran
5) Pelaksanaan
program
C. Analisis Kebutuhan (Need Assesment)
1.
Pengertian Analisis Kebutuhan
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas
berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara
bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan
proses pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya,
penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Analisis
kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi factor-faktor
pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media
yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada
peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Habibi (2015:1) Kebutuhan adalah
segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk
memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Sedangkan menurut Anderson analisis
kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan
prioritas.
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah segala
sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk memenuhi apa yang
diperlukan dalam rangka mencapai kenyataan dan harapan.
2.
Fungsi Analisis Kebutuhan
Morrison
menjelaskan bebrapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan
dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil
pembelajaran
b.
Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang
terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan
atau lingkungan pendidikan.
c.
Menyajikan prioritas-prioritas untuk
memilih tindakan
d.
Memberikan data basis untuk menganlisa
efektifitas pembelajaran.
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan
analasisa kebutuhan:
a. Kebutuhan
Normatif
Membandingkan peserta
didik dengan standar nasional missal, UAN, SNMPTN, dan sebagainya
b. Kebutuhan
Komperatif
Membandingkan peserta
didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel.
c. Kebutuhan
yang dirasakan, yaitu hasrat keinginan yang dimiliki masing0masing perserta
didik yang perlu ditingkatkan
d.
Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu
kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan .
misalnya siswa yang mndaftar sebuah kursus.
e.
Kebutuhan masa depan, yaitu
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang.
Missal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f.
Kebutuhan Insidentil yang mendesak,
yaitu factor negative yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh.
Misal, bencana nuklir, kesalahan medis.
3. Langkah-langkah
analisis kebutuhan
a. Pengumpulan
informasi
b. Identifikasi
kesenjangan
c. Analaisis
performance
d. Identifikasi
hambatan dan sumber
e. Identifikasi
karakteristik iswa
f. Identifikasi
tujuan
g. Merumuskan
masalah
D.
Analisis
Karakteristik Siswa
Kegiatan menganilisis perilaku dan karakteristik siswa
dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa
adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Menurut
Suparman dalam Anwar dan Harmi (2012:58) Karakteristik siswa dapat
didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang ada pada umum
nya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan,
motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik,
kemampuan bekerja sama, keterampilan social
Ada dua karakteristik
awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1. Latar
belakang akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan
diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam
menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran
yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian
akademik.
b. Latar
belakang siswa
Pemahaman guru terhadap
latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap
proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang
latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisisan biodata oleh siswa.
c.
Indeks prestasi
Indeks prestasi juga
menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan :
1)
Dapat disesuaikan dengan tingkat
prestasi yang mereka miliki
2)
Bahkan siswa yang memiliki tingkat
prestasi yang homogeny dapat ditemukan pada kelas yang sama
3)
Guru juga mempertimbangkan tingkat
keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki
siswa.
4)
Untuk mengetahui indeks prestasi siswa
dapat di peroleh melalui nilai rapor
sebelumnya atau seleksi kekmapuan awal siswa yang di selenggarakan lembaga.
d. Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat intelegensi
siswa juga dapat mengukur dan memprediksi :
1)
Tingkat kemampuan mereka dalam menerimma
materi pembelajaran
2)
Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan
materi
3)
Bahkan dengan memahami tingkat
intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat
kesulitan evaluasi terhadap siswa.
4)
Tingkat intelegensi siswa dapat
diperoleh melalui tes intelegensi atau tes potensi akademik (TPA)
e. Keterampilan
membaca
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca. Keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam
menyiimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca.
Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca, siswa dapat dilakukan melalui
tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah
ditentukan.
f. Nilai
Ujian
Nilai
ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa
untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dijadikan tes kemampuan awal siswa
terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan
belajar/gaya belajar
Aspek
lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar
siswa atau yang disebut dengan learning
style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang
mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan
siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang
dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang
terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau
berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak
akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih
lanjut, gaya belajar atau learning style sering
diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai
cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan
memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman
gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru
memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang
relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses
pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran
berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai
oleh siswa.
h. Minat
belajar
Minat
belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik
siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias
siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu
melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh
penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang
akan disampaikan.
i.
Harapan/Keinginan siswa
Harapan
dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa
dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini
dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang
harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang
diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang
disajikan.
j.
Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan
pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan
bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka
inginkan.
2. Faktor-faktor
sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
a)
Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan
dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh
terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan
belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan
pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
b)
Kematangan (maturity)
Kematangan juga dapat dijadikan
sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara
psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam
pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu
psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada
fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan
jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan. Mengarah
kepada terjadinya proses kematangan.
c) Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah
jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian
pembelajaran.
d) Bakat-bakat
istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap
anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu
guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara
optimal.
e) Hubungan
dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang
dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang
lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan
hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar.
Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi
pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang
menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif. Dengan demikian
memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam megembangkan
pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama siswa dalam
belajar.
f) Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan
sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan
sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar
siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.
Manfaat
memahami karakteristik siswa
a.
Memperoleh gambaran yang lengkap dan
terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru
yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak
terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan
baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite
(prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya. Dengan demikian
diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal.
b.
Memporoleh gambaran tentang luas dan
jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. dengan berdasarkanpengalaman
tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi
bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima dan menyerap
bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c.
Mengetahui latar belakang sosial
kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga, seperti tingkat
pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan
lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka.
Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode
yang lebih efesien.
d.
Mengtahui tingkat pertumbuhan dan
perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut
besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar siswa. dengan
demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi
mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh
oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e.
Untuk menentukan kelas-kelas tingkat
laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar,
kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang stu dengan yang lainnya
berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.
Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para
siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk
memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara
kelompok.
g.
Mengetahui tingkat penguasaan
pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek
kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan
pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h.
Mengetahui tingkat penguasaan bahasa
siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar
pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan
dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan
berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil.
i.
Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai
pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses
belajar.