Rabu, 14 Maret 2018

Hakikat Pembelajaran



A.    Hakikat Pembelajaran
1.      Pengertian Hakikat Pembelajaran
a.       Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.
Menurut Hamalik (1994) Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur0unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran
Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Ahmar (2012:10) Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Menurut Corey dalam Ahmar (2012:11) Konsep pembelajaran adalah proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran adalah usaha yang dilakukan secara secara sadar untuk mencapai tujuan belajar yang aktif dan kreatif.
b.      Komponen Pembelajaran
Interaksi merupakan ciri utama dari kegiatan pembelajaran, baik antara yang belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu guru, teman-temannya, tutor, media pembelajaran, atau sumber-sumber belajar yang lain. Ciri lain dari pembelajaran adalah yang berhubungan dengan komponen-komponen pembelajaran. Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012: 12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
c.       Tujuan Pembelajaran
Menurut Robert F. Meager dalam Ahmar (2012:12) memberi batasan yang jelas tentang tujuan pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui pernyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari siswa.
Menurut Daryanto dalam Ahmar (2012:12) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik.
d.      Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam Ahmar (2012:15) Materi pembelajaran pada dasarnya merupakan isi dari kurikulum yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topic dan rinciannya. Isi dari proses pembelajaran tercermin dalam proses materi pembelajaran yang dipelajari oleh siswa.
Materi pembelajaran disusun secara sistematis dengan mengikuti prinsip psikologi. Agar materi pembelajaran itu dapat mencerminkan target yang jelas dari perilaku siswa setelah mengalami proses belajar mengajar. Materi pembelajaran harus mempunyai lingkup dan urutan yang jelas. Lingkup dan urutan itu dibuat bertolak dari tujuan yang dirumuskan.
Menurut Harjanto dalam Ahmar (2012:15) menjelaskan beberapa kriteria pemilihan materi pembelajaran yang akan dikembangkan dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu :
1)      Kriteria tujuan pembelajaran
2)      Materi pembelajaran supaya terjabar
3)      Relevan dengan kebutuhan siswa
4)      Kesesuaian dengan kondisi masyarakat
5)      Materi pembelajaran mengandung segi-segi etik
6)      Materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis
7)      Materi pembelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli dan masyarakat.
e.       Metode Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012) metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif. Sedangkan belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Oleh karena itu,  metode pembelajaran pembelajaran diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu lebih banyak menekankan pembelajaran melalui proses. Dalam hal ini guru dituntut agar mampu memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
f.       Media Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012) Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun di luar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak terlalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namunproses belajar tanpa kehadiran guru dan lebih mengandalkan media termasuk dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana dalam Ahmar (2012:19-21) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:  
1)      Penggunaan media kelas
2)      Penggunaan media di luar kelas
g.      Evaluasi pembelajaran
Menurut Lee J. Cronbach dalam Ahmar (2012:21) merumuskan bahwa evaluasi sebagai kegiatan pemeriksaan yang sistematis dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dan akibatnya pada saat program dilaksanakan pemeriksaan diarahkan untuk membantu memperbaiki program itu dan program lain yang memiliki tujuan yang sama.
Menurut Harjanto dalam Ahmar (2012:21) dalam hubungannya dengan pembelajaran evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Evaluasi Pembelajaran adalah mengukur sampai dimana peristiwa yang  sudah terjadi guna mengrtahui dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi pada peristiwa tersebut.
Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012:22) hasil tes yang diberikan oleh guru mempunyai banyak kegunaan bagi siswa, diantaranya:
1)      Mengetahui apakah siswa sudah menguasai materi pembelajaran yang disajikan oleh guru
2)      Mengetahui bagian mana yang belum dikuasai oleh siswa, sehingga dia berusaha untuk mempelajarinya lagi sebagai upaya perbaikan
3)      Penguatan bagi siswa yang sudah memperoleh skor tinggi dan menjadi dorongan atau motivasi untuk belajar lebih baik.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Evaluasi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Karena dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran dapat diketahui hasilnya. Oleh karena itu evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat, agar dapat menilai kemampuan siswa dengan tepat.


h.      Peserta didik/siswa
Menurut Ahmar (2012:22) siswa merupakan salah satu komponen inti dari pembelajaran, karena inti dari proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan.
Menurut Herlin Febriana Dwi Prasti dalam Ahmar (2012:23) mengemukakan disiplin merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nila-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban berdasarkan acuan nilai moral.
Menurut Slameto dalam Ahmar (2012:23) menyatakan belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Disiplin belajar adalah suatu kondisi yang terbentuk melalui proses usaha seseorang yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban.
Dari berbagai pengertian diatas dapat diketahui bahwa siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka siswa harus memiliki disiplin belajar yang tinggi. Siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi akan terbiasa untuk selalu patuh dan mempertinggi daya kendali diri, sehingga kemampuan yang sudah diperoleh siswa dapat diulang-ulang dengan hasil yang relative sama.
i.        Pendidik/guru
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam Ahmar (2012:24) secara keseluruhan guru adalah figure yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat maupun di sekolah..
            Secara umum tugas guru adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan trjadinya proses belajar pada diri siswa. Menurut suciati, dkk dalam Ahmar (2012:24-25) dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, ada dua tugas yang harus dikerjakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaram yang efektif. Kedua tugas tersebut sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas. Sebagai pengelola pembelajaran, guru bertugas untuk menciptakankegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Sedangkan sebagai pengelola kelas, guru bertugas untuk menciptakan situasi kelas yang memungkinkan terjadinya pembelajaran yang efektif. Kedua tugas itu saling berkaitan satu dengan yang lain.
j.        Lingkungan tempat belajar
Menurut Suciati, dkk dalam Ahmar (2012:25) menjelaskan bahwa lingkungan adalah situasi yang ada disekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Jika lingkungan ditata dengan baik, lingkungan dapat menjadi sarana yang bernilai positif dalam membangun dan mempertahankan sifat positif.
Menurut Dalyono dalam Ahmar (2012:26) juga mengeaskan bahwa lingkungan itu sebenarnya mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis maupun sosio-kultural.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Lingkungan adalah daerah yang berada disekitar kita tempat kita untuk bersosialisasi yang bernilai positif.
k.      Pengolahan Proses Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012:26) mengajar merupakan aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tugas dan tanggung jawab seorang guru adalah mengelola proses belajar yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas belajar, sedangkan Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012:26-27) peran guru dalam pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya menjalankan tugas utama, yaitu :
1)                  Merencanakan pembelajaran, yang terinci dalam empat sub kemampuan yaitu perumusan tujuan pembelajaran, penetapan materi pembelajaran, penetapan kegiatan belajar mengajar, penetapan metode dan media pembelajaran, penetapan alat evaluasi
2)                  Pelaksanaan pengajaran yang termasuk didalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan pembelajaran
3)                  Mengevaluasi pembelajaran dimana evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan.
4)                  Memberikan umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memlihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar.

B.     Model Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diuji cobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Menurut Gagne (1992) menjelaskan desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tajapan segera dan tahapan jangka panjang.
Menurut Dick and Carey dalam Aji (2016:120) memandang desain pembelajaran sebagai sebuah sistem dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sistematis.  Menurut Aji (2016:121) berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisasi pengajaran. Salah satu diantaranya adalah model pembelajaran Dick and Carrey. Adapun langkah-langkah pembelajarannya yaitu:
1.      Mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran
2.      Melaksanakan analisis pengajaran
3.      Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
4.      Merumuskan tujuan performansi
5.      Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
6.      Mengembangkan strategi pengajaran
7.      Mengembangkan dan memilih material pengajaran
8.      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
9.      Merevisi bahan pembelajaran
10.  Mendesain dan melakukan evaluasi sumatif.
Menurut Uno dalam Aji (2016:121) secara umum pengunaan model pengajaran Dick and Carrey adalah sebagai berikut.
1.      Model Dick and Carrey terdiri atas 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat  cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain.
2.      Kesepuluh langkah pada model Dick and Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya. Dengan kata lain, sistem yang terdapat dalam Dick and Carrey sanagt ringkas, tetapi isinya padat dan jelas dari suatu urutan ke urutan berikutnya.
3.      Langkah awal pada model Dick and Carrey adalah mengidentifikasi tujuan pengajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum baik di perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu yang memiliki tujuan pembelajaran dalam kurikulumnya untuk dapat melahirkan suatu rancangan pembelajaran.
              Penggunaan model Dick and Carrey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar:
a)      Pada awal proses pembelajaran, anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran
b)      Adanya pertautan antara tiap komponen, khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki
c)      Menerapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Kriteria Desain Instruksional
1.      Beberapa kriteria desain instruksional yang baik;
a.       Berorientasi pada siswa
Sistem pembelajaran siswa merupakan komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang dapat dilihat dan dipahami dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain, kemampuan dasar dan gaya belajar.
b.      Bepihak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem dapat mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c.       Teruji secara empiris
Desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.
2.      Model-model desain instruksional
Perencanaan pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya  memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001) bahwa desain intruksinonal adalah a systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah  ini disajikan beberapa di antaranya.
a.       Model Kemp
              Model desain sistem instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk  mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah :
a)      Hasil yang ingin dicapai
b)      Analisis tes mata pelajaran
c)      Tujuan khusus belajar
d)     Aktivitas belajar
e)      Sumber belajar
f)       Layanan pendukung
g)      Evaluasi belajar
h)      Tes awal
i)        Karakteristik belajar
Kesembilan komponen  itu merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi si sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
b.      Model Banathy
Model desain sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yaitu:
1)      Menganalisis dan merumuskan tujuan
2)      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3)      Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar
4)      Merancang sistem
5)      Mengimplementasi dan melakukan kontrol kualitas sistem
6)         Mengadakan  perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
c.       Model Dick and Cery
Seperti desain model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya  dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya  tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran. Langkah akhir dari desaim adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran
d.      Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan  perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses  belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1)      Merumuskan tujuan
2)      Mengembangkan evaluasi
3)      Mengembnagkan kegiatan belajar mengajar
4)      Mengembangkan program kegiatan pembelajaran
5)      Pelaksanaan program

C.    Analisis Kebutuhan (Need Assesment)
1.      Pengertian Analisis Kebutuhan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan proses pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya, penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi factor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
      Menurut Habibi (2015:1) Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Sedangkan menurut Anderson analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk memenuhi apa yang diperlukan dalam rangka mencapai kenyataan dan harapan.
2.                  Fungsi Analisis Kebutuhan
Morrison menjelaskan bebrapa fungsi analisis kebutuhan sebagai berikut:
a.          Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran
b.         Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
c.          Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
d.         Memberikan data basis untuk menganlisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analasisa kebutuhan:
a.       Kebutuhan Normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar nasional missal, UAN, SNMPTN, dan sebagainya
b.      Kebutuhan Komperatif
Membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel.
c.       Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat keinginan yang dimiliki masing0masing perserta didik yang perlu ditingkatkan
d.      Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan . misalnya siswa yang mndaftar sebuah kursus.
e.          Kebutuhan masa depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Missal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f.          Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu factor negative yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis.
3.      Langkah-langkah analisis kebutuhan
a.       Pengumpulan informasi
b.      Identifikasi kesenjangan
c.       Analaisis performance
d.      Identifikasi hambatan dan sumber
e.       Identifikasi karakteristik iswa
f.       Identifikasi tujuan
g.      Merumuskan masalah

D.    Analisis Karakteristik Siswa
Kegiatan  menganilisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Menurut Suparman dalam Anwar dan Harmi (2012:58) Karakteristik siswa dapat didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang ada pada umum nya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan social
Ada dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1.      Latar belakang akademik mencakup
a.    Jumlah siswa
Guru perlu  mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa,  maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.

b.      Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi,  hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisisan biodata oleh siswa.
c.    Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan :
1)            Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
2)            Bahkan siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogeny dapat ditemukan pada kelas yang sama
3)            Guru juga mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa.
4)            Untuk mengetahui indeks prestasi siswa dapat di  peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kekmapuan awal siswa yang di selenggarakan lembaga.
d.   Tingkat intelegensi
Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi :
1)            Tingkat kemampuan mereka dalam menerimma materi pembelajaran
2)            Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
3)            Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
4)            Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelegensi atau tes potensi akademik (TPA)
e.    Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyiimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca, siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f.    Nilai Ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dijadikan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang  mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.
h.      Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.        Harapan/Keinginan siswa
Harapan dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
2.      Faktor-faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
a)                  Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
b)                  Kematangan (maturity)
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.

c)      Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
d)     Bakat-bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
e)      Hubungan dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama siswa dalam belajar.
f)       Keadaan sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menntukan pndekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar.

Manfaat memahami karakteristik siswa
a.          Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal.
b.         Memporoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c.          Mengetahui latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d.         Mengtahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e.          Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f.          Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.
g.         Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h.         Mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil.
i.           Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar